Berbahayakah Makan Mie Instan?

Mie instan, makanan yang tidak asing lagi bagi kita semua. Makanan wajib akhir bulan (tanggal tua) terutama bagi anak kos :). Di atas kepopulerannya, mie instan ini sering sekali kita dengar rumor dan hal-hal buruk tentang makanan satu ini. Yang paling sering kita dengar adalah mie instan itu mengandung lilin, menyebabkan penyakit kanker (bukan kantong kering ya bos) dan penyakit seram lainnya.

Yang pasti, kurangnya atau minimnya kandungan gizi didalam mie instan, membuat makanan ini bisa dibilang kurang sempurna. Walau didalamnya terdapat sayuran (sedikit sih), mie instan ini juga mengandung protein, vitamin A, C, B1, B6, B12, lemak, niasin, folat, mineral besi, dan pantotenat. Makanya di dalam kemasannya selalu di tulis dan disarankan untuk disajikan bersama makanan lainnya seperti daging, telur, dan sayur tambahan. Dengan tambahan-tambahan tadi diharapkan asupan gizi untuk tubuh akan tercukupi.

Sekarang mari kita coba bahas rumor-rumor seram tentang mie isntan ini satu persatu.

Adalah Prof Dr FG Winarno, ahli pangan dan Ketua Dewan Pakar PIPIMM (Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman)yang menanggapi rumor ini dan mencoba memberikan penjelasan secara ilmiah kepada masyarakat.

1. Kandungan lilin di dalam mie instan.

Pendapat ini mengatakan kalau mie instan mengandung lilin karena untuk mencegah mie tidak saling lengket/menempel, terlihat saat kita merebus mie instan akan muncul minyaknya. Rumor ini adalah merupakan pendapat yang sangat marak dan sudah melekat di benak masyarakat.
Menanggapi hal ini Prof Dr FG Winarno mengatakan bahwa mie instan awet dan tahan simpan karena proses pembuatannya, antara lain dengan cara penggorengan atau deep frying yang membuat kadar air mie instan menjadi sangat rendah (sekitar 5 persen), sehingga tidak memungkinkan bakteri pembusuk hidup dan berkembang biak. Karena kadar air yang sangat rendah tersebut, mie instan bersifat sangat awet. Karena prosesvdeep frying tersebut menggunakan minyak goreng, tidaklah aneh kalau sewaktu memasak mie instan terlihat berminyak. Mie instan tidak mengandung lilin karena lilin adalah senyawa inert untuk melindungi makanan agar tidak basah dan cepat membusuk. Dan itu biasanya terdapa pada makanan seperti apel dan kubis.

2. Membuang air rebusan mie instan.

Apakah anda pernah dengar orang bilang, “buanglah air rebusan mie instan biar gak kemakan lilinnya?’
Rumor ini berkaitan dengan rumor nomor satu diatas. Sudah dijelaskan di atas kalau mie instan tidak mengandung lilin, jadi kalau anda membuang air rebusan mie instan berarti anda justru membuang larutan gizi yang berada dalam air rebusan tersebut. Coba sesekali dibaca dalam kemasan mie instan, disana tertulis kandungan gizi yang lumayan banyak jenisnya, dan semua kandungan gizi itu kalau di rebus akan larut dalam air.
Setelah tahu fakta ini, apakah anda masih akan membuang air rebusannya? Silakan anda yang memutuskannya.

3. Jangan masak mie dan bumbunya bersamaan.

Orang bilang, awas loh kandungan memasak mie bersama bumbunya dengan pemanasan di atas 120 derajat Celsius berpotensi menjadi karsinogen pembawa kanker?
Prof Dr FG Winarno menanggapi hal ini, wooo….isu yang sangat seram. Benarkah demikian? Ternyata tidak. “Mi instan kering merupakan produk setengah matang. Disebut instan karena sangat cepat disajikan setelah dipanaskan pada suhu air mendidih. Biasanya kurang lebih 100 derajat Celsius dalam waktu kurang dari 5 menit. Jadi, suhunya bukan 120 derajat Celsius, di mana suhu tersebut baru dapat dicapai bila menggunakan pressure cooker atau retort untuk strelisasi dalam proses pengalengan pangan,” lanjutnya.
Alasan mie tidak boleh dimasak dengan bumbunya karena ditakutkan rasanya akan tidak enak. Karena bumbu mie instan sudah di takar untuk dicampur dengan air tidak lebih dari 400c (seukuran mangkok). Sedangkan kalau kita merebus mie instan, penggunaan airnya bisa dua atau tiga kali lipat. Kebayangkan rasanya kalo masak mie denga 1200cc air trus bumbunya di masak bareng.

4. Mengandung Natrium.

Penderita sakit hipertensi dan maag pasti sering banget mendapatkan larangan untuk memakan makanan yang mengandung Natrium. Karena natrium bisa membahayakan bagi penderita hipertensi dan maag.
Rumus kimia Natrium Klorida adalah NaCl, dan tentu anda tau kalau garam dapur itu mengandung NaCl, dan sejak pertama kali garam ditemukan dan sampai hari ini tidak ada larangan dari BPOM untuk mengkonsumsi garam. Dan ya tentunya garam digunakan dalam pembuatan mie instan.

5. Mengandung MSG

Lembaga pengawas kesehatan, WHO atau Codex memperbolehkan penggunaan MSG sebagai bahan makanan tambahan, MSG tidak berbahaya selama penggunaannya tidak melebihi batas aman yang distandarkan.
Menanggapi hal ini Prof Dr FG Winarno menambahkan, “Mi instan menggunakan bahan pengawet. Dalam proses pembuatannya, mi instan mi instan menggunakan metode khusus agar lebih awet, namun sama sekali tidak berbahaya. Seperti yang telah dijelaskan di atas, salah satu cara pengawetan mi instan adalah dengan deep frying yang bisa menekan rendah kadar air sekitar 5 persen. Metode lain adalah hot air drying (pengeringan dengan udara panas). Inilah yang membuat mi instan bisa awet hingga 6 bulan, asalkan kemasannya terlindung secara sempurna.”

Nah, setelah tahu fakta-fakta diatas, silakan anda memutuskan untuk tetap mempertahankan mitos, rumor atau isu tentang mie instan atau anda akan mulai merubahnya. Terlepas dari semua ini, apapun itu makanannya, kalau berlebihan pastilah tidak baik.